Harga kopi Vietnam saat ini mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah, dengan harga ekspor rata-rata 5.653 USD per ton dan harga domestik melebihi 120.000 dong per kilogram. Namun di balik euforia “demam harga tinggi” ini, industri kopi Vietnam menghadapi paradoks: semakin tinggi harga, semakin sulit bagi pelaku usaha, dan semakin khawatir para petani.
Rekor Ekspor, tapi Masih Banyak Kekhawatiran
Dalam 10 bulan pertama tahun 2025, ekspor kopi Vietnam mencapai 7,41 miliar USD, meningkat 63,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya — rekor tertinggi sepanjang masa, memperkuat posisi Vietnam sebagai eksportir Robusta nomor satu di dunia.
Pada 27 Oktober, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa kopi akan dibebaskan dari tarif 20% dalam perjanjian dagang baru dengan Vietnam. Kabar positif ini menjadi dorongan besar bagi kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekspor dan ekspansi pasar global.
Namun di balik angka-angka mengesankan itu, terdapat kenyataan pahit: produksi kopi menurun hampir 10%, dan banyak perusahaan kekurangan bahan baku untuk memenuhi pesanan ekspor.
“Harga tinggi tidak berarti keuntungan berkelanjutan. Dengan 80% petani berskala kecil dan kekurangan teknologi, perubahan iklim dapat menghapus hasil panen hanya dalam satu musim,”
kata Nguyen Nam Hai, Ketua VICOFA (Asosiasi Kopi dan Kakao Vietnam).
Iklim yang Berubah – Ancaman Terbesar Bagi Petani
Dataran Tinggi Tengah, wilayah yang menanam 90% kopi Vietnam, kini menghadapi perubahan iklim paling ekstrem dalam 20 tahun terakhir.
Suhu rata-rata naik lebih dari 1°C, musim hujan semakin pendek, dan musim kering lebih panjang, menyebabkan sumber air irigasi menurun 25% dibanding satu dekade lalu.
Di Dak Lak, ribuan hektar tanaman kopi tua mati kekeringan, menurunkan produktivitas dari 2,8 ton menjadi 2,2 ton per hektar.
“Tahun ini bunga kopi muncul lebih awal, hujan datang terlambat, hasil panen turun setidaknya 15%,”
kata Trinh Duc Minh, Ketua Asosiasi Kopi Buon Ma Thuot.
Meskipun badai Kalmaegi awal November tidak menimbulkan kerusakan besar, para ahli memperingatkan bahwa ini baru awal dari rangkaian risiko iklim.
Hanya beberapa hujan tak menentu di masa pengeringan bisa membuat petani kehilangan seluruh hasil panen.
Jika tidak ada langkah penyesuaian yang tepat, Kementerian Pertanian dan Lingkungan (MARD) memperkirakan bahwa hingga tahun 2035, luas lahan kopi Vietnam bisa berkurang 10–15% akibat kekeringan dan degradasi tanah.
Pengolahan Lebih Dalam – Kunci untuk Meningkatkan Nilai
Saat ini, Vietnam baru mengolah sekitar 30% dari total produksi kopi, sementara sisanya masih berupa kopi mentah untuk ekspor.
Padahal, nilai satu ton kopi instan bisa 3–4 kali lipat lebih tinggi dari kopi mentah.
“Kita mengekspor biji, sementara dunia menjual merek,”
ujar Prof. Pham Anh Tuan, Kepala Institut Mekanisasi Pertanian dan Teknologi Pascapanen.
Teknologi pengolahan dalam negeri masih bergantung hingga 70% pada impor, menyebabkan biaya tinggi dan kualitas tidak stabil.
Beberapa perusahaan seperti Vinacafe Bien Hoa, Trung Nguyen Legend, dan Simexco Dak Lak sudah mulai berinvestasi pada teknologi modern seperti sterilisasi UHT, ekstraksi minyak dengan sentrifugasi dingin, dan pengemasan aseptik, namun skala produksi masih terbatas dan belum menciptakan rantai nilai nasional.
Dari Biji Kopi ke Kekuatan Lunak Nasional
Merek lokal seperti Highlands, Phuc Long, dan The Coffee House terus berkembang di pasar domestik, tetapi belum ada merek kopi Vietnam yang mendunia.
Menurut Global Coffee Report 2025, tidak satu pun merek kopi Vietnam masuk dalam 100 besar dunia.
Vietnam memasok 50% kebutuhan Robusta dunia, namun sebagian besar hanya menjadi bahan baku bagi perusahaan multinasional seperti Nestlé, Louis Dreyfus, Olam, dan Tchibo, tanpa label “Made in Vietnam”.
Di Amerika Serikat, tren peralihan ke Robusta spesial (specialty Robusta) membuka peluang besar. Namun Vietnam belum memiliki cukup pasokan kopi spesial yang memenuhi standar internasional, dan belum memiliki kisah merek yang mampu menarik konsumen global.
Brasil memiliki Café do Brasil, Kolombia memiliki Juan Valdez, tetapi Vietnam masih belum punya simbol budaya kopi sendiri.
EUDR – Tantangan Baru dari Pasar Eropa
Sejak pertengahan tahun 2024, Peraturan Anti-Deforestasi (EUDR) dari Uni Eropa mulai berlaku.
Setiap pengiriman kopi harus dibuktikan tidak menyebabkan deforestasi, jika tidak, akan dilarang masuk ke pasar Eropa.
Penerapan aturan ini dapat meningkatkan biaya 80–100 USD per ton, namun jika tidak dipatuhi, Vietnam bisa kehilangan lebih dari 40% pasar ekspor ke Eropa.
Perusahaan seperti Intimex Group dan Simexco Dak Lak telah menjadi pionir dengan menerapkan AI dan blockchain untuk pelacakan sumber asal, serta mengembangkan perkebunan bersertifikasi Rainforest Alliance – langkah penting agar kopi Vietnam tetap bersaing di pasar global.
“Kita tidak lagi punya pilihan. Produksi hijau adalah syarat untuk bertahan,”
tegas Do Ha Nam, Wakil Ketua VICOFA.
Butuh Strategi Nasional untuk “Revolusi Kopi Kedua”
Harga tinggi mungkin membantu industri kopi mencapai pendapatan rekor 8 miliar USD pada tahun 2025, namun nilai merek nasional masih jauh dari potensi sebenarnya.
Para ahli menilai, sudah saatnya Vietnam memiliki strategi menyeluruh — bukan hanya berfokus pada ekspor, tetapi juga mengembangkan pengolahan mendalam, perdagangan elektronik, pariwisata, dan budaya kopi.
“Kita harus mengubah kopi dari sekadar komoditas menjadi simbol nasional, seperti cara Korea membawa kimchi dan film ke dunia,”
kata Chau Huu Tri, Wakil Direktur Pusat Penyuluhan Pertanian Vinh Long.
Saat ini, Kementerian Pertanian dan Lingkungan sedang meninjau rencana untuk menata kembali 600.000 hektar lahan kopi berkelanjutan, memprioritaskan varietas tahan penyakit, pertanian organik, serta pembangunan pusat logistik kopi di Dataran Tinggi Tengah.
Jika langkah ini dijalankan secara konsisten, ini bisa menjadi “revolusi kopi kedua” yang membawa industri kopi Vietnam menuju masa depan berkelanjutan dan berdaya saing global.
